Abon Lenting: Inovasi Mahasiswa UMMADA Cirebon untuk Pencegahan Stunting dan Pemberdayaan Disabilitas Desa Durajaya

CIREBON – Upaya untuk menurunkan angka stunting di Indonesia terus digalakkan melalui berbagai inovasi berbasis masyarakat. Salah satu inisiatif inspiratif datang dari mahasiswa dan dosen Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan (UMMADA) Cirebon, yang menggandeng Komunitas Disabilitas Desa Durajaya, Kecamatan Greged, Kabupaten Cirebon, dalam program Hibah BEM Berdampak 2025 yang diselenggarakan oleh Kemdikbudristek.

Melalui program ini, lahirlah inovasi pangan bergizi bernama Abon Lele Pencegah Stunting (Abon Lenting) — produk olahan lele yang tidak hanya menjadi solusi pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga sarana pemberdayaan ekonomi bagi komunitas disabilitas setempat.

Program ini diinisiasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMMADA Cirebon di bawah koordinasi mahasiswa M. Zacki bersama dosen pendamping Fika Nurul Hidayah, Diyanah Kumalasary, dan Tomi. Mereka bekerja sama dengan BUMDes Durajaya dalam pemanfaatan potensi lokal berupa hasil ternak lele.

Lele dipilih sebagai bahan utama karena kandungan proteinnya yang tinggi dan mudah didapat di lingkungan pedesaan. Melalui proses pelatihan, para peserta dari komunitas disabilitas dilatih untuk mengolah lele menjadi abon yang bergizi dan memiliki nilai jual tinggi.

“Meski memiliki keterbatasan fisik, para peserta menunjukkan semangat luar biasa. Mereka antusias mengikuti pelatihan produksi pangan dan pelatihan pemeriksaan kesehatan mandiri,” ujar Diyanah Kumalasary, dosen pendamping kegiatan.

Sebanyak 20 peserta komunitas disabilitas dan 25 kader pendamping ikut serta dalam kegiatan ini. Selain keterampilan produksi, mereka juga mendapatkan pelatihan kesehatan dasar, seperti penggunaan alat pemeriksaan tekanan darah, pengecekan kadar Hb (hemoglobin), kolesterol, asam urat, gula darah, suhu tubuh, berat badan, hingga penggunaan oksimeter.

Menurut Linda, Ketua Komunitas Disabilitas Desa Durajaya, kegiatan ini menjadi angin segar bagi masyarakat.
“Melalui pelatihan ini, kami merasa lebih percaya diri dan mandiri. Kami tidak hanya belajar membuat produk bergizi, tapi juga menjaga kesehatan sendiri,” ujarnya.

Program ini menjadi bukti nyata bahwa pemberdayaan masyarakat dapat berjalan beriringan dengan upaya peningkatan kesehatan dan kesejahteraan. Produk Abon Lenting tidak hanya diharapkan menjadi solusi untuk pencegahan stunting, tetapi juga simbol kemandirian dan inovasi dari masyarakat desa.

Dosen pendamping menegaskan bahwa kegiatan ini selaras dengan visi UMMADA Cirebon untuk menjadi Universitas Unggul dan Islami Berorientasi Kesehatan dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Tahun 2044.

“Melalui kolaborasi lintas sektor, mahasiswa dan dosen UMMADA menunjukkan bahwa kampus dapat menjadi motor penggerak perubahan sosial dan peningkatan kualitas hidup masyarakat,” ujar Fika Nurul Hidayah.

Ke depan, produk Abon Lenting akan terus dikembangkan melalui pelatihan lanjutan, pengemasan produk yang lebih modern, serta rencana pemasaran berbasis digital agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas.

Inovasi dari Desa Durajaya ini membuktikan bahwa dari sebuah desa kecil di Kabupaten Cirebon, semangat untuk menciptakan perubahan besar bisa tumbuh — dari kolam ke dapur, dari keterbatasan menjadi kekuatan.